Pages

Minggu, 30 Desember 2012

Babak Kedua



Dulu Siska adalah seorang anak yang gemuk dan remaja yang gempal. Ia makan untuk menghibur hatinya karena masa kanak-kanaknya yang tidak bahagia. Tetapi kemudian hal itu menjadi suatu kebiasaan. Siska menghilangkan pikiran-pikiran negatifnya dengan makan macaroni, keju, hotdog, dan keripik kentang. Tahun terakhir di universitas adalah saat dimana ia mulai bisa mengendalikan kebiasaan makannya. Makan waktu yang cukup lama untuk mendengarkan kata hatinya. Siska takut memikirkan akan mendengar kata-kata buruk dan mengerikan. Malah ia menjadi lemah lembut pada dirinya sendiri. Siska biarkan dirinya menangis terguncang sambil memeluk selimut kumal masa kecilnya di dada Siska.
Lalu Siska bekerja. Dalam rentang waktu tiga tahun, ia berolah raga dan makan makanan sehat yang tak pernah ia makan sebelumnya. Berat badannya mulai turun. Bentuk wajahnya terlihat. Ia melihat bentuk dagunya, garis tulang pipinya, lekuk rahangnya, Siska melihat dirinya yang sebenarnya.
Selama masa pencarian kerja, setelah lulus dan sebelum pekerjaan pertamanya di dunia professional, ia berusaha menemukan impian dan keinginannya. Siska terus memikirkan keinginannya untuk menjadi artis sejak ia masih kecil. Siska selalu mengubur keinginannya untuk menjadi artis karena ia pikir itu tak mungkin. Bentuk tubuhnya saat buruk sehingga ia tidak bisa membayangkan dirinya berdiri di hadapan penonton dan mendapatkan rasa kasihan dari mereka.
Suatu hari di bulan Januari yang kelabu, ia sedang berlari dan pinggangnya terasa sakit. Ia berjalan pelan-pelan, bernafas pendek dan memperhatikan mobil yang lewat di sampingnya menembus kabut. Ia mulai berdoa sambil berjalan. Ia berkata, “baiklah Tuhan, aku memang tidak pernah berdoa sejak kecil, tapi jika Engkau berkehendak untuk berbicara denganku, aku akan mendengarkan. Apakah aku seharusnya berakting? Saat itu juga, setelah pikiran itu baru saja berlalu, sakit di pinggangnya semakin menjadi-jadi. Siska megap-megap. Air matanya mengalir dan nafasnya mulai memburu karena rasa sakit yang amat sangat. Selama dua tahun berlari pagi, baru kali ini ia menderita kram seperti itu.
Dengan kram yang ia derita, ia sadar bahwa doanya untuk meminta petunjuk telah dikabulkan. Siska sedang diberi pesan. Siska tidaklah sia-sia. Siska bisa menikmati hasil kerja kerasnya selama tiga tahun jika ia berhenti berpikir negatif terhadap dirinya sendiri.
Tiba-tiba ia mempunyai bayangan. Ia sebagai cover majalah dengan makeup, rambut, manikur dan berpakaian hitam-hitam. Kedua tangannya meregang keluar di perutnya, menarik kemeja ke atas celana agak ke bawah sehingga bekas luka berwarna putih memanjang di perut terlihat jelas dan public bisa melihatnya. Itulah jejak perjuanganku dan perjalanan hidupku.
Siska berjalan, nafasnya membeku di udara, dan mulai menangis. Gadis kecil dalam dirinya terus berkata, Baiklah tetapi aku takut! Mereka akan mengolok-olokku! Ia terisak-isak di jalan, berjalan tersandung-sandung di atas salju.
Setahun sudah berlalu sejak ia mengenyampingkan rasa takutnya dan dengan berani melangkah di atas panggung. Sejak saat itu, ia mengikuti kelas acting dan dua kali ikut bermain dalam drama local dan ia tidak lagi berpikiran negatif terhadap dirinya sendiri. Ia memanfaatkan waktu yang ia butuhkan untuk melatih bakat dan menunjukkan dirinya. Tidak ada yang mengolok-oloknya, mereka memuji kemampuannya.
Seperti mencari biji tambang, ia menemukan sesuatu hal yang bagus di dirinya setelah menggali begitu dalam. Ia dikenal sebelum digosok dan dipersiapkan. Sekarang ia bersinar terang bak emas 24 karat.

0 komentar:

Posting Komentar