Pages

Jumat, 23 Desember 2011

Konflik dan Kemiskinan

Laporan Bank Dunia mengungkapkan dampak merebaknya konflik dan kekerasan di berbagai belahan dunia pada pertumbuhan dan kemiskinan global.
Tema laporan ini sangat pas dengan kondisi dunia yang terkoyak-koyak oleh perang saudara, konflik, kekerasan, dan berbagai tragedi kemanusiaan saat ini. Data yang ada, kondisi dunia memang sudah menunjukkan alarm bahaya. Lebih dari 1,5 miliar orang atau setiap satu dari empat penduduk dunia kini menghuni wilayah langganan siklus kekerasan politik dan kriminal.

Dalam setiap peristiwa, kelompok paling marjinal selalu menjadi korban. Konflik dalam berbagai manifestasinya adalah faktor eksternalitas yang menyebabkan tersanderanya tujuan-tujuan pembangunan. Laporan itu jelas menunjukkan, tak ada negara yang terus didera konflik berhasil mencapai satu target pembangunan milenium.
Sebagaimana korupsi, perang dan konflik menyedot sumber daya, dari yang seharusnya untuk membangun infrastuktur dan menyejahterakan rakyat menjadi mesin pembunuh dan perusak semua capaian pembangunan.

Ini juga berlaku di Indonesia. Wilayah konflik adalah wilayah yang paling menderita karena konflik dan kekerasan merusak tidak saja sendi-sendi perekat hubungan antarmasyarakat, tetapi juga menghancurkan modal sosial, sumber daya ekonomi, dan hasil-hasil pembangunan yang sudah susah payah dicapai, selain juga merenggut kehidupan manusia itu sendiri.
Karena itu diingatkan pentingnya isu konflik dan kekerasan juga jadi perhatian kaum developmentalis. Isu ini tak bisa dianggap hanya sebagai isu sampingan dalam realitas dunia saat ini karena ada hubungan kausalitas di antara keduanya. Konflik menyebabkan kemiskinan kronis dan kemiskinan sering kali juga jadi pencetus konflik.

Di sinilah dituntut peran semua negara, termasuk negara-negara maju, karena tak sedikit konflik dan perang di negara-negara dunia ketiga disulut oleh ketamakan, perebutan sumber daya, atau motif-motif ekonomi lain yang melibatkan kekuatan besar asing, baik itu dalam wujud perusahaan multinasional maupun negara.

Tak jarang konflik makin berkobar karena ada intervensi atau kepentingan pihak luar. Konflik Timteng dan pantai Gading, misalnya. Di Indonesia, kasus Freeport, Ambon, Maluku, dan masih banyak lagi. Ke depan, konflik dan kekerasan dunia dikhawatirkan kian meningkat dengan kian terbatasnya sumber daya terutama mineral, energi, dan pangan serta meningkatnya jumlah penduduk.

Barangkali ini yang harus jadi kepedulian bersama dunia untuk bisa dicegah. Di sinilah pentingnya pemahaman yang lebih baik terhadap akar penyebab konflik, komitmen mengakhiri konflik, serta mengedepankan negosiasi dan perdamaian. Hanya dengan begitu, upaya memutus lingkungan setan. Konflik dan kekerasan bisa diwujudkan.

Sumber= kompas

1 komentar: